Feeds:
Pos
Komentar

Instrumentalisme dalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam itu dengan cara utama menyelidiki bagaimana pikiran-pikiran berfungsi dalam penemuan-penemuan yang berdasarkan pengalaman-penglaman yang berdasarkan pengalaman yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan.

Pemikiran john dewey terhadap pendidikan

Dewey memandang bahwa tipe Pragmatismenya di asumsikan sebagai sesuatu yang mempunyai jangkauan aplikasi dalam masyarakat. Contoh hal tersebut adalah bahwa Dewey menawarkan dua metode pendekatan dalm pengajaran yaitu:

• Problem solving method

Dengan metode ini, anak di hadapkan pada berbagai situasi dan masalah-masalah yang menantang, dan anak didik di beri kebebasan sepenuhnya untuk memecahkan masalah-masalah tersebut sesuai dengan perkembanganya. Dengan metode semacam ini, tidak hanya mengandalkan guru sebagai pusat informasi(metode pedagogy) di ambil alihlah oleh methode andragogy(studi tentang aturan ) yang lebih menghargai perbedaan individu anak didik.
• Learning by Doing

Konsep yang sangat di perlukan bagi anak didik, supaya anak didik tetap bisa eksis dalam masyarakat bila telah menyelesaikan pendidikannya maka mereka dibekali keterampilan-keterampilanpraktis sesuai dengan kebutuhan masyarakat sosial.

 

Pendidikan yang diusung oleh john dewey mengutamakan pada pendidikan yang berdasarkan minat keterampilan anak itu sendiri.

Kesimpulan

Berfikir adalah instrumen utama dalam memecahkan masalah.

Judul buku       : KAUMAN ( Muhammadiyah Undercover)

Pengarang        : Sidik Jatmaka dan M. Zahrul Anam

Tanggal terbit   : 2010

Penerbit           : Gelanggang

Tebal buku      : 130 hal; 12 x 20 cm

Peresensi          : Rikhsan Nurhadian Suhandi

Begitu banyak lokasi atau tempat yang memiliki nilai historis di daerah istimewa Yogyakarta, dimulai dari tempat-tempat dimana terletaknya situs-situs purbakala warisan peradaban dan kebudayaan kerajaan Mataram serta Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sampai kepada tempat bukti sejarah terciptanya negara kesatuan republik indonesia. Sebut saja Kraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Gedung Agung, Taman sari, malioboro, monjali dan lain-lain. Tempat-tempat seperti inilah yang menjadi daya tarik yang eksotis dari kota yogyakarta, disamping itu masih terjaganya dan terpeliharanya kebudayaan serta adat memberikan nilai positif bagi perkembangan Yogyakarta, terutama dari bidang kebudayaan dan pariwisata. Dari hal ini pula yang menjadikan Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya dengan brand “Jogja (Never Ending Asia)”.

Ada sebuah lokasi yang mungkin sering orang lupakan “jasanya” bagi perkembangan kota Yogyakarta khususnya. Kauman adalah tempat tersebut, dari tata letaknya Kauman Yogyakarta tidak berbeda dengan letak kauman di beberapa kota atau kabupaten di pulau jawa. Kawasan perkampungan yang terletak di belakang masjid agung kota atau kabupaten di pulai jawa sudah lumrah dengan dinamakan daerah Kauman atau Kaum.

Begitu pula dengan Kauman Yogyakarta, sebuah kawasan perkampungan yang terletak di barat alun-alun utara Keraton Kesultanan Yogyakarta, tepatnya di belakang Masjid Ghede (agung) Yogyakarta. Terletak di kelurahan Ngupasan, kecamatan Gondomanan, kota Yogyakarta; sekitar 500 meter ke arah selatan dari ujung kawasan Malioboro dan 200 meter dari pagelaran utara keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini merupakan kampung yang begitu masyhur. Karena di sinilah Muhammadiyah lahir pada 8 Dzulhijjah 1330, bertepatan dengan tanggal 18 November 1912, oleh seorang pegawai Kesultanan Keraton Yogyakarta beranama Muhammad Darwis. Tokoh ini di kemudian hari dikenal dengan sebutan K.H. Ahmad Dahlan. (hal 13)

Lazimnya sebuah daerah dengan nama kauman atau kaum, Kauman yogyakarta memiliki fungsi sebagai tempat bermukimnya para alim ulama  yang bertugas untuk memakmurkan masjid, abdi dalem keraton yang bertugas mengurusi  keagamaan di lingkungan keraton pula ditempatkan disini. Misalnya, abdi dalem Suronoto yang bertugas mengurus kegiatan keagamaan di lingkungan keraton, abdi dalem K.H. Aji Selusin bertugas mewakili raja untuk berhaji, abdi dalem Ketib sejumlah 9 orang bertugas memberikan khotbah di masjid, abdi dalem berjamaah terdiri 40 orang bertugas menjadi makmum shalat jumat, abdi dalem Mudin bertugas melantunkan azan, dan abdi dalem Merbut mengurusi rumah tangga mesjid. Semua abdi dalem yang terkait dengan kegiatan keagamaan tersebut, digolongkan menjadi abdi dalem Pamethakan atau putih. (hal 23)

Lanjut Baca »

Judul Buku : Kota-kota di Jawa: Identitas, Gaya Hidup dan Permasalah Sosial.
Penyunting : Sri Margana dan M. Nursam
Penerbit : Ombak, Yogyakarta
Tebal : 341 hlm + x ; 16 x 24
Tahun : 2010
Peresensi : Rikhsan Nurhadian S.

Berawal dari kumpulan artikel-artikel karya dari murid dan kolega Prof. Djoko Suryo, Guru Besar Ilmu Sejarah pada Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM, yang dipersembahkan kepada beliau sebagai hadiah ultah yang ke-70 pada 20 desember 2009. Sri Margana dan M. Nursam sebagai editor mencoba menyajikan sebuah kumpulan artikel mengenai sejarah pekembangan serta permasalahan kota-kota di jawa yang dirangkum dalam sebuah buku yang berjudul “Kota-kota Di Jawa : Identitas, Gaya Hidup dan Permasalahan Sosial”.
Sejarah seringkali kita lupakan, seakan sejarah hanyalah sesuatu yang berlalu saja padahal bila kita memperhatikan nilai dan kandungan sejarah semua itu bisa kita jadikan sebuah cerminan serta pelajaran. Begitu pula sejarah mengenai perkembangan kota-kota di Indonesia khususnya di Jawa, perkembangan inilah yang menjadi sorotan dimana disini terjadinya pergeseran budaya dari sebuah kota. Proses terjadinya pergeseran budaya yang berdampak terhadap perubahan identitas kota menuju identitas kota baru. Perubahan yang dihasilkan dari aplikasi modernisasi yang mulai bergulir sejak awal abad ke-20 dan perubahan pandangan masyarakat itu sendiri.
Modernisasi berdampak pada perubahan masyarakat yang menyeluruh, hampir semua aspek kehidupan mulai dari aspek politik, ekonomi hingga budaya. Keadaan ini dapat dirasakan di sejumlah kota yana notabene kota tradisional atau kota budaya, seperti yang terjadi di Yogyakarta dan Solo. Lanjut Baca »

Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter

Moderato : R. Nurhadian (adi)

Permasalahan

Mas alex

1.        maksud lahirnya pendidikan karakter menurut pendiri  FW Fourster

2.       Apakah pendidikan karakter itu merupakan disiplin ilmu ?

3.       Pendidikan karakter dalam bahasa arab bisa dikatakan at ta`dib

4.       Sejalan dengan pemdapatnya stainberg dan decodenco triarkis pendidikan

a.       analitik

b.      praktis

c.       creative Lanjut Baca »

Positivisme

Positivisme diperkenalkan oleh Aguste Comte (1798-1857) yang tertuang dalam karya utama Aguste Comte adalah Cours de Philosophic Positive, yaitu tentang Filsafat Posistif ( 1830-1842) yang diterbitkan enam jilid [1]. Positivisme berasal dari kata “positif”. Kata “positif” di sini sama artinya dengan faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut Positivisme, pengetahuan kita tidak oleh melebihi fakta-fakta. Positivisme menurut kamus ilmiah adalah anggapan bahwa yang berarti itu hanya proposisi kolektif yang menunjukkan kepada hal-hal yang bersifat baik[1]. Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktual-fisikal. Positivisme bukanlah aliran yang berdiri sendiri, positivisme aliran yang berasal dari penggabungan empirisme dan rasionalisme.

positivisme tidak menerima sumber pengetahuan melalui pengalaman batiniah tersebut. ia hanyalah mengandalkan fakta-fakta belaka. (Juhaya S. Pradja, 2000: 89) Lanjut Baca »